Selasa, 25 Mei 2010

Asal Mula Kelurahan/Desa Tara Tara

Taratara awalnya terbentuk sekitar abad XVI yaitu pada sekitar tahun 1600. Kejadiannya bermula dari para pemburu binatang dan pedagang dari kampung Sarongsong (Tomohon), dimana mereka sering menelusuri sungai Ranowangko untuk mencari ikan, babi hutan, dsb dan selanjutnya meneruskan perjalanan pergi ke Tanawangko untuk mengambil garam. Karena perjalanannya jauh maka mereka sering beristirahat di suatu tempat di antara Sarongsong dan Tanawangko, yaitu disekitar kaki Gunung Lokon dan dekat dengan Sungai Ranowangko. Tempat itu tanahnya subur, banyak air juga tanaman-tanaman hasil hutan, dan banyak binatang buruan, sehingga Tulong dan Kalangi tertarik untuk selalu beristirahat di tempat itu, bahkan sambil bermalam. Mereka kemudian membuat terung (pondok) tempat berteduh sementara untuk berkebun. Terung itu pula adalah tempat beristirahat apabila mereka kembali dari Tanawangko untuk membawa garam. Karena hasil perkebunan cukup melimpah sehingga mereka membawa keluarga - keluarga mereka ikut serta untuk menginap di tempat itu, agar perjalanan mereka ke Tanawangko menjadi singkat, Tapi istri-istri mereka keberatan karena jauh dari kampung halaman tercinta, tetapi pada akhirnya mereka mau juga untuk berkebun dan menetap di tempat tersebut. Sampai di kebun mereka membuat pondok besar dan menetap di tempat yang baru setelah menerima tanda dari burung manguni yang berarti niat mereka untuk menetap di tempat yang baru dapat diterima.
Sebelum mereka memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal, mereka sembahyang untuk meminta tanda (wenang). Setelah sekitar 7 jam akhirnya mereka mendengar burung Manguni datang mendekat (berarti menjawab doa). Burung Manguni memberikan tanda sebanyak 9 kali (makasiow) berarti merestui / memberkati doa mereka. Setelah itu mereka yakin bahwa doa mereka terjawab maka mereka mengambil tongkat dan menancapkannya baru mereka membuat tempat berteduh (gonggulang). Perkembangan selanjutnya mereka mengganti tongkat itu dengan batu (yang sampai saat ini masih ada dan terletak di kintal Kel. Sembel G. Suot–Rau). Mereka memilih tempat itu karena subur . Tempat baru itu akhirnya disebut Tinalingaan. Tulong saat itu disebut Tonaas ne Sana Punten (pemimpin rombongan penduduk).
Pondok keluarga semakin banyak didirikan dan banyak keluarga yang berdatangan sehingga sudah menjadi suatu kampung yang kemudian disebut Tazataza. Ditengah - tengah perkampungan yaitu di Tinalingaan diletakkan Watu Tumani sebagai tanda pendirian desa Tazataza. Sebutan Tazataza diambil dari tumbuhan rumput Taztaz, atau rumput berbunga yang warnanya indah sekali. Dalam bahasa latin disebut : Elodea . Istilah tersebut diperhalus dengan masuknya bangsa Portugis dan Belanda di desa ini, menjadi Tazataza. Bunga tersebut bila dipatahkan atau diinjak menimbulkan bunyi ‘taz’ (menurut ejaan bahasa Tombulu), kalau rumput itu memiliki banyak batangnya, maka apabila terinjak akan berbunyi ‘taz…taz’ (dalam bahasa Tombulu).
Tumbuhan ini banyak tumbuh di sekitar daerah yang baru itu sehingga untuk mengingat tempat dimana mereka pernah kunjungi dan beristirahat para pengunjung atau pelancong menamakan daerah itu ‘Tazataza’ (dalam aksen bahasa Tombulu).
Begitu seterusnya hingga daerah ini menjadi ‘wanua’. Setelah adanya ‘wanua’ , maka diperlukan aturan-aturan yang harus ditaati oleh seluruh anggota ‘wanua’, supaya hidup tertib, aman, damai dan sentosa. Muncullah adat istiadat dan peradaban. Tulong kemudian dijadikan ‘Tu’a Taranak’ (kepala satu marga yang bertindak mengatur, menjaga adat/kepercayaan, dukun/pengobatan, dan bertindak menyelesaikan persoalan, melindungi penduduk, pemimpin perang dan berburu) yang mula-mula dengan dibantu oleh Kalangi. Setelah Tulong meninggal, Kalangi diangkat menjadi ‘Tu’a Taranak’ dengan pembantunya bernama Tambingon. Selanjutnya Tambingon memimpin lalu digantikan Sembel baru kemudian Lontoh. Pada tahun 1664, pada masa ‘Tu’a Taranak’ Lontoh, ditetapkan batas-batas desa Taratara, yaitu :
- Sebelah utara : Sampai pada lereng gunung Lokon 3.000 m.
- Sebelah barat : Sekitar 5.000 m.
- Sebelah selatan : Mengikuti batas daerah Sonder.
- Sebelah timur : Mengikuti aliran sungai Ranowangko sekitar 400 m.

Diambil dari : Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Akang Dang